Tuesday, February 19, 2008

Pesta Kambing diperbatasan Saudi

Ternyata guyonan ala Benu Cs berhasil membuat Bandar Babeh tidak dapat berbuat banyak, mau tidak mau Babeh harus rela merogoh kocek dan uang 285 dirham dan kini telah beralih tangan ke pemilik restaurant Karuff Mandi, milik seorang Yemeni.
Guyonan ini berawal di rumah sharing F-172, tepatnya awal tahun baru Hijriah 1427, atau 10 January 2008 lalu, disaat seluruh penghuni sedang sibuk menyiapkan panganan Sate Lembu untuk di makan saat pergantian tahun.

Guyonan ini memang tergolong unik, berawal dari obrolan uang pendidikan anak yg telah dibayarkan Gasco ke Babeh sejumlah 40.000 dirhams, jumlah yg cukup banyak untuk 4 anak selama satu tahun harus berakhir dgn “Undangan” makan-makan ke Sila, nama tempat persis di perbatasan antara UAE dan Arab Saudi.
Undangan “paksa” ini semula hanya berupa guyonan anak2 F-172 tapi akhirnya terlaksana sebulan setelahnya..
Inilah sekilas rekaman moment tersebut:

















Senyum Pepsodent


Apakah gerangan? senyumnya begitu manis...
Mungkin saat sang photograper membidikkan lensanya, bulan baru saja muncul alias bulan Muda bin abis gajian..makanya senyumnya sangat manis sekali..euy

Hobby Baruku di Delma Jetty



Kini hari-hari libur si Tole hanya diisi dengan hiburan baru, dan mau tdk mau telah menjadi hobby baru baginya, mancing. Sejak beberapa hari kepindahannya ke Siemen Camp telah membuatnya begitu mahir melempar kail yg dulu hanya ia lakukan di kolam belakang rumahnya.

Kegiatan memancing ini memang pilihan satu-satunya bagi Tole. Tidak ada kegiatan lain yg bisa ia kerjakan semisal bermain sepak bola atau bola kasti yg biasa ia lakukan dulu sebelum ia memutuskan tinggal bersama keluarga di Kampung Siemen Camp. dekat pelabuhan Delma. Mancing memang sangat mudah dilakukan disini, tempat dan lingkungan itu sendiri begitu dekat dgn laut, gurun dan bukit tandus persis berada dibelakang rumahnya. Jika awal-awal, Tole tidak pernah membawa hasil pancingannya, kini Tole telah sangat "lihat" melempar kail jauh ketengah dari hari2 sebelum. Hari sabtu lalu Tole berhasil membawa pulang 4 ekor ikan kapas-kapas dan satu cucut. Kini ia bangga menenteng joran merek white Rabbit dgn kayuhan sepeda yg ia beli waktu masih sharing dulu merek Olimpik.

Selamat bergelut dgn hobby baru kawan...selamat menempati rumah baru..!!!

Ttd,

Babeh

Siemen Camp: Antara "Ya" & "Tidak"

Dalam beberapa hari belakangan wajah si Ruli (nama samaran) keliatan murung, sering mengurung diri dan sedikit tertutup dibanding hari-hari sebelumnya. Jika dulu Ruli masih menyempatkan diri, setidaknya ia selalu ada didapur ketika sang "Cook" dan "Assistant"-nya sibuk mempersiapkan menu makan malam...
Ternyata kemurungan si Ruli juga dibarengi sensitivitas yg berlebihan, mudah tersinggung dan ber-temperamen tinggi. Ada apa gerangan?

Tidak disangka tidak dinyana, ternyata kemurungan si Ruli sangat mudah ditebak! Ia ingin sekali membawa keluarganya untuk tinggal di Siemen Camp. Ia tidak ingin lagi bertahan sharing alias hidup bersama teman2nya satu atap, satu rumah..walau kamarnya masing2.
"Seribu satu" macam alasan ia ungkapkan pada Si Tole, teman satu atap dan sependeritaan semenjak mereka tiba di Negara kaya minyak ini, sama-sama bertekad bulat tidak akan membawa keluarga mereka hingga sampai "uang sharing" ditiadakan perusahaan.."Merdekaaa!!" mereka begitu "Kompak", Tegar...tidak akan bergeming satu langkahpun tetap diatas pendirian "tidak akan"!!!
Awal-awal "Uang Sharing" itu memang lebih kuat daya tariknya, hampir seluruh pioneer-pioneer baru diperusahaan Gas ini tergiur untuk tetap mendapatkan "limpahan" dana segar setiap bulannya, paling tidak selama dua tahun kedepan. Tambahan uang sharing itu memang membuat mereka benar-benar "wah" dan berpenghasilan, paling tidak lebih tinggi dari rekan-rekannya yg memutuskan untuk "karajo" di Qatar.

Tapi..ternyata...akhir-akhir ini "kerinduaan" untuk berkumpul bersama keluarga mereka lebih kuat dari "Tekad awal" yg pernah mereka deklarasikan bersama! Segala macam alasan menjadi pertimbangan, walau mereka harus hidup berdesak-desakan bersama rekan lainnya dalam satu rumah dan bisa jadi (akan) memilih tinggal di suatu CAMP nun jauh di sana, dekat pelabuhan Delma...

Wednesday, February 13, 2008

History: Kerajaan Samudera Pasai


1. Sejarah
Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh, Raja Pasai pertama. Malik al-Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak, dengan raja pertama Malik al-Saleh.
Seorang pengembara Muslim dari Maghribi, Ibnu Bathutah sempat mengunjungi Pasai tahun 1346 M. ia juga menceritakan bahwa, ketika ia di Cina, ia melihat adanya kapal Sultan Pasai di negeri Cina. Memang, sumber-sumber Cina ada menyebutkan bahwa utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi lain juga menyebutkan bahwa, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat pada tahun 1282 M. Ini membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan luar
Pada masa jayanya, Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.
Seiring perkembangan zaman, Samudera mengalami kemunduran, hingga ditaklukkan oleh Majapahit sekitar tahun 1360 M. Pada tahun 1524 M ditaklukkan oleh kerajaan Aceh.
2. Silsilah
Sultan Malik al-Saleh (1267-1297 M)
Sultan Muhammad Malikul Zahir (1297-1326 M)
Sultan Ahmad Laidkudzahi
Sultan Zainal Abidin Malik al-Zahir (1383-1405 M)
Sultan Shalahuddin (1405-1412 M)
...................................
3. Periode Pemerintahan
Rentang masa kekuasan Samudera Pasai berlangsung sekitar 3 abad, dari abad ke-13 hingga 16 M.
4. Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan Pasai mencakup wilayah Aceh ketika itu.
5. Struktur Pemerintahan
(Dalam proses pengumpulkan data).
6. Kehidupan Sosial-Budaya
Telah disebutkan di muka bahwa, Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sebagai kerajaan besar, di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu. Inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. HRP menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya.
Sejalan dengan itu, juga berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas permintaan dari Sultan Malaka. Informasi di atas menceritakan sekelumit peran yang telah dimainkan oleh Samudera Pasai dalam posisinya sebagai pusat tamadun Islam di Asia Tenggara pada masa itu.

Sumber:
Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 12. Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka. 1990
Profil Propinsi Republik Indoensia, DI Aceh. Jakarta: Yayasan Bakti Wawasan Nusantara. 1992.
Teuku Ibrahim Alfian, Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. 1999

Friday, February 8, 2008

Mengenal Tokoh Penjelajah Islam



Ibnu Battuta, demikianlah nama seorang tokoh Islam yg diabadikan menjadi nama sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Dubai, united Arab Emirates. Ia hidup pada abab 14 masehi, tepatnya tahun1304, di desa Tangiers, Marroco, merupakan pengembara tersohor sejak tahun 704-779H / 1304-1377M. Catatan pengembaraan beliau ‘Rihlah Ibn Battutah’ telah membuktikan karya warisan Islam klasik & penting kepada pengkaji-pengkaji samada ditimur dan dibarat. Ia juga lambang kewujudan seorang pengembara muslim yang terulung dalam lipatan sejarah. Ia adalah seorang pengembara yg pernah menjelajah keseluruhan afrika, timur tengah, dan sebahagian asia tenggara selama hampir tiga dekade. Di tahun 1325 masehi, beliau menunaikan ibadah haji di Mekkah. dari Desa Tangier Marroco. Abdullah Muhammad Ibn Battuta, telah melakukan perjalanan sejauh 120,700 Km dengan menyeberangi laut dan daratan, dengan menggunakan kapal miliknya ia telah mengujungi India, China, Srilanka, dan pernah mengunjungi kerajaan Samudera Pasai Aceh tahun 1345. Ibnu Battuta mencatat seluruh perjalanannya dalam satu buku yg dikenal "Rihala of Ibn Battuta". Beliau meninggal di tahun 1365, di Fez, Marroco.


























UT-UAE

Subscribe to UniversitasTerbukaUAE
Powered by groups.yahoo.com